IMG-20220417-WA0008

Ecoprint Bukan Sekedar Hobi Tapi Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia

 

AEPI – Ecoprint semakin membumi di Indonesia. Ecoprinter pun terus bertambah banyak. Dalam dua tahun ini, anggota Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI) sudah pencapai 1.235 orang. Berbagai pihak mulai melirik untuk mengembangkan karya ecoprint menjadi berbagai produk mulai dari fashion, homedeccor, aksesoris, dan lainnya. Kini, ecoprint bukan hanya sekedar hobi tapi bisa menghasilkan rupiah.

Dalam talkshow bertajuk “from hobby to money” di acara Ecoprint Fashion Week 2022, Ketua Umum AEPI, Puthut Ardianto setuju pendapat Desaigner Sonny Muchlison bahwa ecoprinter harus dipertemukan desainer. “Saya juga memberi apresiasi kepada Ikatan Designer Ecoprint Indonesia;” kata Puthut, Minggu, 10/4/2022 pada acara Ecoprint Fashion Week 2022 di The Plaza Semanggi.

Karya ecoprint disentuh desainer menjadi produk fashion yang bernilai jual lebih tinggi dari sekedar lembaran kain saja. Seperti karya 52 desainer anggota Ikatan Designer Ecoprint Indonesia (IDE Indonesia) yang digelar selama 5 hari pada Ecoprint Fashion Week 2022.

Puthut mengungkapkan awalnya tak mudah mengajak kelompok ibu-ibu di Desa Puncak Becici Yogyakarta untuk membuat ecoprint. Namun setelah melalui proses selama tiga bulan, akhirnya 90 ibu-ibu itu “menganggukkan kepala”, mengakui kain ecoprint laku terjual. “Kelompok ibu-ibu yang semula hanya mencari rumput untuk ternak kini menjadi mitra kami,” kata Puthut.

Sementara AEPI masih memiliki PR besar, antara lain mengembangkan kualitas ecoprint dan ecoprinter-nya. Selain itu mengajak para ecoprinter bisa melakukan internalisasi konsep ramah lingkungan. “Semua ecoprinter menginternalisasi diri agar eco-friendly. Tidak hanya mengambil daun saja, tapi harus menanam kembali. Kita menuju sustainable fashion,” Puthut yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Fashion Designer Sonny Muchlison menyarankan agar para ecoprinter bisa menjadi ecoprinter sejati. Dicontohkan, menanam pohon yang kita butuhkan. “Kalau mencabut akar mengkudu. Potong-potong batangnya untuk ditanam lagi,” katanya.

Sonny memberi tips agar karya ecoprint mempunyai kualitas baik. Antara lain, harus mengenal karakter daun dan pewarnaan alam. Sehingga penataan daun tidak asal taruh di atas kain. Dan proses pewarnaan lain, karakter daun dibuat catatannya. “Ini perlu dikemas jadi laboratorium ecoprinter. Dari sini kita jadi berbeda dengan yang lain,” ujarnya.

Ecoprinter harus banyak menggali potensi di sekitar dan seperti yang dia lakukan sebagai desainer yaitu “learning by mistakes”. Sonny menyarankan agar ecoprinter ketemu desainer agar karyanya bisa lebih baik aplikasinya.

Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, Tipri Rose Kartika yang akrab disapa Ocha ini menjelaskan mahasiswanya banyak praktik dengan industri terkait dari praktisi-praktisi. “Termasuk praktisi ecoprint yaitu Bu Inen Kurnia pernah juga memberi materi dan mahasiswa kami praktik langsung,” ujarnya.

Program studi di kampusnya memang berbasis industri kreatif, salah satunya design mode, production and entrepreneur. Jadi mahasiswa diajari mulai dari membuat pola, menjahit, dan memproduksi yang layak jual sesuai customer demand.

Dyah Ayu Pasha yang ikut dalam talkshow bertajuk “from hobby to money” menilai ecoprint adalah termasuk wastra yang perlu dilestarikan seperti batik. Dyah Ayu yang mengenakan baju ecoprint karya Inen Signature mengatakan sangat nyaman dan suka dengan motif dan warnanya. Dan dia pun memuji karya Puthut yang memadukan teknik ecoprint dengan teknik jumputan. “Ini salah satu yang menarik, punya kekhasan. Orang tertarik lalu dicari kemudian dibeli,” kata pelestari batik ini.

Untuk membuat ecoprint dikenal lebih luas bisa melalui pemuda atau yang kini masuk generasi milenial dan generasi Z. Kelompok pemuda dan usia remaja bisa menjadi pusat pengaruh yang kuat.

Sementara itu, sebanyak 52 desainer menampilkan 260 karya busana ecoprinter pada acara Ecoprint Fashion Week yang digelar di Plaza Semanggi, tanggal 6 hingga 10 April 2022. Perhelatan fashion ini menunjukkan ecoprint bukan sekedar menjadi hobi tetapi menjadi kekuatan baru ekonomi Indonesia

Ketua Ikatan Designer Ecoprint Indonesia (IDE Indonesia), Inen Kurnia, mengatakan meskipun ecoprint bukan asli Indonesia, tetapi ditangan warga Indonesia ecoprint berkembang pesat. Ecoprint yang merupakan olah teknik olah kain dari kain-kain alami, motif dari bahan alami seperti daun. Kini bukan hanya menjadi lembaran kain biasa tetapi menjadi produk fashion seperti busana, tas, aksesoris, bahkan bukan hanya pada media kain tetap juga ecoprint pada media kulit, kertas, keramik.

Pada acara yang dibuka oleh Ellisa Sumarlin, istri Wakil Gubernur DKI Jakarta dan jajarannya, juga dihadiri oleh Ibu Hj. Melati Erzaldi, S.H, istri Gubernur Bangka Belitung, Inen mengungkapkan ecoprinter dunia menoleh Indonesia sejak ecoprinter Indonesia menggelar acara Rona Jejak Alam dalam Karya. Saat itu lebih dari 500 karya ecoprinter Indonesia terkumpul.

Bulan Februari 2022, dalam grup Botanical Dunia, bendera Indonesia dikibarkan pertama kali dan mendapat sambutan antusias dari ecoprinter Indonesia yang mengacungkan karya-karya yang luar biasa. “Ini menjadi semangat baru,” kata Inen.

Para ecoprinter Indonesia mempunyai wadah Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI) Dan seiring perkembangan sejumlah ecoprinter yang mempunyai taste pada fashion dibuatkan wadah Ikatan Desìgner Indonesia (IDE Indonesia) yang diinisiasi oleh Inen Kurnia, Wirasanti, Geisha Ratu; dan Isnawati.

Kini, Ecoprint Fashion Week 2022 yg pertama ini, 260 karya dari 52 desainer Indonesia dipersembahkan untuk Indonesia. Sebanyak 20 UKM ecoprint juga turut memajang karyanya, selain kegiatan pelatihan membuat ecoprint, menjahit tas dan pakaian zero waste.(ddew

 

 

 

 

Posted in

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Hubungi kami